Dalam industri penerbitan, pemanfaatan karya dapat menghasilkan pendapatan melalui penjualan buku cetak, buku elektronik, audiobook, lisensi terjemahan, hingga adaptasi ke bentuk karya lain. Namun, tidak semua bentuk pemanfaatan tersebut dapat dilakukan secara bebas oleh setiap pihak. Ada ketentuan hukum dan perjanjian yang menentukan siapa yang berhak menggunakannya, bagaimana izin diberikan, serta bagaimana pendapatan dibagikan.
Pemahaman mengenai hak ekonomi penulis membantu penulis, penerbit, penerjemah, dan pihak lain yang terlibat dalam industri kreatif menjalankan kerja sama secara lebih jelas. Pengetahuan ini juga berguna untuk menghindari penggunaan karya tanpa izin, memahami isi kontrak penerbitan, serta merencanakan pengembangan buku menjadi aset intelektual yang bernilai dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai hak ekonomi tidak cukup hanya berfokus pada royalti. Penulis juga perlu memahami dasar perlindungan hak cipta, bentuk pemanfaatan komersial, mekanisme pemberian lisensi, pembagian pendapatan, dan batas penggunaan karya oleh pihak lain.
Pengertian Hak Ekonomi Penulis
Hak ekonomi penulis adalah hak eksklusif yang memungkinkan pencipta memperoleh manfaat ekonomi atas ciptaannya melalui berbagai bentuk pemanfaatan yang dilindungi oleh hukum. Dalam konteks buku, hak ini berkaitan dengan kewenangan untuk memperoleh manfaat finansial dari penerbitan, penggandaan, distribusi, penerjemahan, dan penggunaan lain yang termasuk dalam ruang lingkup hak cipta.
Di Indonesia, perlindungan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Undang-undang ini membedakan hak moral dan hak ekonomi sebagai dua aspek penting dalam perlindungan pencipta. Hak moral berkaitan dengan hubungan personal antara pencipta dan karyanya, sedangkan hak ekonomi berkaitan dengan pemanfaatan ciptaan untuk memperoleh manfaat finansial.
Sebagai contoh, seorang penulis menghasilkan novel berjudul Langit di Ujung Kota. Ketika novel tersebut diterbitkan dan dijual, penulis dapat memperoleh pendapatan sesuai perjanjian dengan penerbit. Jika novel itu hendak diterjemahkan ke bahasa asing atau diadaptasi menjadi film, penggunaan tersebut juga perlu memperhatikan hak yang berlaku dan izin dari pihak yang berwenang.
Hak ekonomi tidak selalu berarti penulis harus mengelola seluruh proses komersialisasi sendiri. Penulis dapat memberikan izin kepada penerbit atau pihak lain untuk memanfaatkan karya melalui perjanjian lisensi. Dalam kondisi tertentu, hak ekonomi juga dapat dialihkan sesuai ketentuan hukum dan kesepakatan yang berlaku.
Hal yang perlu dipahami adalah bahwa pemberian izin untuk menerbitkan buku tidak otomatis berarti seluruh hak atas karya telah diserahkan. Ruang lingkup hak yang diberikan harus dilihat dari isi perjanjian, termasuk jenis pemanfaatan, wilayah, jangka waktu, dan ketentuan penggunaan lainnya.
Baca Juga : Hak Moral Penulis dan Kedudukannya dalam Penerbitan Buku
Dasar Hukum Perlindungan Hak Ekonomi Penulis
Perlindungan terhadap karya tulis merupakan bagian dari sistem hukum kekayaan intelektual. Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta menjadi landasan utama untuk memahami hak pencipta, hak ekonomi, hak moral, dan ketentuan mengenai pemanfaatan ciptaan.
Buku yang memuat karya tulis orisinal pada dasarnya dapat memperoleh perlindungan hak cipta sejak ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata, sepanjang memenuhi persyaratan yang berlaku. Artinya, perlindungan tidak semata-mata bergantung pada apakah buku tersebut sudah diterbitkan atau telah didaftarkan.
Pencatatan ciptaan dapat membantu menyediakan bukti administratif mengenai suatu karya, tetapi bukan merupakan syarat lahirnya hak cipta. Karena itu, penulis sebaiknya tetap menyimpan naskah asli, riwayat penyuntingan, korespondensi dengan penerbit, serta dokumen lain yang dapat membantu menunjukkan proses penciptaan dan kepemilikan karya.
Dalam praktik penerbitan, perlindungan hukum juga berkaitan dengan perjanjian antara penulis dan penerbit. Perjanjian tersebut dapat mengatur izin penerbitan, hak untuk menggandakan dan mendistribusikan buku, pembayaran royalti, pengelolaan format digital, serta pengaturan hak turunan.
Sebelum menyetujui kontrak, penulis perlu membedakan antara pemberian lisensi dan pengalihan hak. Lisensi pada umumnya memberikan izin pemanfaatan dalam ruang lingkup yang disepakati, sedangkan pengalihan hak ekonomi dapat memindahkan hak tertentu kepada pihak lain. Akibat hukum masing-masing bergantung pada bentuk perjanjian dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan memahami dasar hukum tersebut, penulis dapat lebih berhati-hati ketika menandatangani kontrak, memberikan izin penggunaan kutipan, atau menerima tawaran kerja sama komersial dari pihak lain.
Bentuk Hak Ekonomi dalam Penerbitan Buku
Hak ekonomi mencakup sejumlah bentuk pemanfaatan yang dapat menghasilkan pendapatan. Dalam industri buku, beberapa bentuk tersebut berkaitan langsung dengan penjualan, sedangkan yang lain berhubungan dengan pemberian izin kepada pihak ketiga.
Menurut kerangka Undang-Undang Hak Cipta Indonesia, hak ekonomi meliputi berbagai tindakan yang ditentukan oleh undang-undang, antara lain penerbitan, penggandaan, penerjemahan, pengadaptasian atau pentransformasian, pendistribusian, pertunjukan, pengumuman, komunikasi, dan penyewaan ciptaan. Penerapan setiap kategori bergantung pada jenis ciptaan, bentuk pemanfaatan, dan ketentuan hukum yang relevan.
Berikut beberapa contoh pemanfaatan yang umum ditemukan dalam penerbitan buku.
| Bentuk pemanfaatan | Contoh kegiatan | Potensi manfaat ekonomi |
|---|---|---|
| Penerbitan | Menerbitkan naskah menjadi buku cetak | Royalti atau pembayaran sesuai kontrak |
| Penggandaan | Memproduksi salinan buku untuk dijual | Pendapatan dari penjualan salinan yang sah |
| Distribusi | Menyalurkan buku ke toko dan platform penjualan | Pendapatan melalui penjualan dan lisensi terkait |
| Penerjemahan | Mengalihbahasakan buku ke bahasa lain | Lisensi terjemahan atau pembagian pendapatan |
| Adaptasi | Mengembangkan novel menjadi film atau drama | Lisensi adaptasi sesuai kesepakatan |
| Publikasi digital | Menyediakan buku elektronik melalui platform | Royalti atau pendapatan digital |
| Audiobook | Mengubah isi buku menjadi rekaman audio | Pendapatan dari lisensi atau penjualan format audio |
Tabel tersebut menggambarkan beberapa jalur komersialisasi yang dapat dipertimbangkan oleh penulis. Setiap bentuk pemanfaatan tetap perlu dinilai berdasarkan hak yang dimiliki, izin yang diperlukan, dan ketentuan perjanjian yang berlaku.
Sebagai ilustrasi, seorang penulis yang awalnya hanya menerbitkan buku cetak dapat mengembangkan peluang pendapatan melalui edisi digital. Jika terdapat tawaran penerjemahan, penulis juga dapat mempertimbangkan kerja sama dengan penerbit asing. Akan tetapi, peluang tersebut harus disesuaikan dengan hak yang masih dikuasai penulis dan hak yang mungkin telah diberikan kepada penerbit pertama.
Perbedaan Hak Ekonomi dan Hak Moral Penulis
Hak ekonomi dan hak moral merupakan dua aspek perlindungan yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Memahami perbedaannya membantu penulis mengetahui hak apa yang berkaitan dengan pendapatan dan hak apa yang berkaitan dengan identitas serta integritas karya.
Hak ekonomi memungkinkan pencipta memperoleh manfaat finansial dari penggunaan ciptaannya. Sementara itu, hak moral berkaitan dengan pengakuan terhadap pencipta dan perlindungan terhadap hubungan personal antara pencipta dengan karyanya. Dalam praktiknya, kedua hak tersebut dapat muncul dalam satu kegiatan penerbitan.
Misalnya, penerbit menjual sebuah novel berdasarkan perjanjian yang memberikan hak penerbitan kepadanya. Penjualan tersebut berkaitan dengan pemanfaatan ekonomi karya. Namun, pencantuman nama penulis pada buku juga berkaitan dengan hak moral. Jika isi novel diubah secara substansial tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku, persoalan tersebut dapat melibatkan aspek hak moral sekaligus kewajiban kontraktual.
Perbedaan keduanya dapat dipahami melalui tabel berikut.
| Aspek | Hak ekonomi | Hak moral |
|---|---|---|
| Fokus perlindungan | Manfaat ekonomi dari pemanfaatan karya | Hubungan pencipta dengan karya |
| Contoh | Royalti penjualan buku | Pencantuman nama penulis |
| Pemanfaatan oleh pihak lain | Dapat diberikan melalui lisensi atau dialihkan sesuai hukum | Memiliki karakter personal dan ketentuan perlindungan tersendiri |
| Kepentingan utama | Penghasilan dan pemanfaatan komersial | Pengakuan pencipta dan integritas karya |
| Contoh persoalan | Buku dijual tanpa izin yang diperlukan | Nama pencipta dihilangkan atau karya diubah secara melanggar haknya |
Dalam konteks hukum Indonesia, hak moral memiliki perlindungan tersendiri dan tidak dapat disamakan dengan hak ekonomi. Oleh sebab itu, penulis tidak sebaiknya menganggap bahwa pemberian hak penerbitan otomatis menghilangkan seluruh hak yang melekat pada dirinya sebagai pencipta.
Pemahaman ini juga penting bagi penerbit. Perjanjian komersial sebaiknya menjelaskan kewenangan pengelolaan karya tanpa mengabaikan pengakuan terhadap pencipta dan ketentuan hukum yang berlaku.
Cara Penulis Memperoleh Pendapatan dari Pemanfaatan Karya
Pendapatan dari buku dapat diperoleh melalui beberapa mekanisme. Pilihan yang tepat bergantung pada jenis karya, model penerbitan, kemampuan penulis dalam mengelola distribusi, dan peluang pasar yang tersedia.
Tidak semua penulis memperoleh pendapatan dengan pola yang sama. Ada yang bekerja sama dengan penerbit konvensional, ada yang menerbitkan buku secara mandiri, dan ada pula yang mengembangkan karya melalui lisensi untuk berbagai format. Setiap model memiliki konsekuensi berbeda terhadap biaya, kendali, risiko, dan pembagian pendapatan.
1. Royalti dari penerbitan konvensional
Dalam penerbitan konvensional, penulis biasanya bekerja sama dengan penerbit yang menangani sejumlah proses, seperti penyuntingan, desain, pencetakan, pemasaran, dan distribusi. Sebagai imbalan atas hak yang diberikan sesuai kontrak, penulis dapat menerima royalti berdasarkan penjualan atau mekanisme pembayaran lain yang disepakati.
Besaran pendapatan tidak hanya dipengaruhi persentase royalti. Dasar perhitungan, jumlah buku terjual, potongan distribusi, retur, dan jadwal pembayaran juga menentukan jumlah yang diterima penulis.
Sebagai contoh, penulis memperoleh royalti sebesar 10% dari harga jual yang menjadi dasar perhitungan sebesar Rp100.000 per buku. Jika 600 eksemplar memenuhi ketentuan penjualan, royalti kotornya mencapai Rp6.000.000. Angka ini merupakan ilustrasi dan belum memperhitungkan pajak atau penyesuaian yang sah berdasarkan perjanjian.
Karena itu, penulis perlu memastikan bahwa laporan penjualan dapat dipahami dan sesuai dengan ketentuan kontrak. Transparansi laporan membantu penulis menilai perkembangan buku sekaligus memeriksa apakah pembayaran telah dilakukan secara tepat.
2. Pendapatan melalui penerbitan mandiri
Penerbitan mandiri atau self-publishing memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengelola penerbitan karyanya sendiri. Penulis dapat menentukan harga, memilih penyedia jasa penyuntingan, mengatur desain, dan memilih saluran distribusi sesuai kebutuhan.
Model ini memungkinkan penulis memiliki kendali lebih besar atas pengelolaan karya. Namun, penulis juga perlu menanggung atau mengatur biaya produksi, pemasaran, distribusi, serta administrasi penjualan. Pendapatan yang lebih besar per eksemplar tidak selalu berarti keuntungan lebih tinggi karena terdapat biaya yang harus diperhitungkan.
Sebelum menerbitkan buku secara mandiri, penulis sebaiknya membuat estimasi biaya dan proyeksi penjualan. Perhitungan tersebut dapat mencakup biaya penyuntingan, desain sampul, tata letak, pencetakan, penyimpanan, promosi, dan komisi platform.
Penulis juga perlu memastikan bahwa semua unsur yang digunakan dalam buku, termasuk ilustrasi, foto, dan materi pihak ketiga, telah memiliki izin yang sesuai jika diperlukan. Kepemilikan atas naskah sendiri tidak otomatis memberikan hak untuk menggunakan seluruh materi yang dimasukkan ke dalam buku.

3. Lisensi terjemahan dan hak adaptasi
Karya yang memiliki pembaca di pasar tertentu berpotensi dikembangkan ke wilayah atau format lain. Salah satu caranya adalah memberikan lisensi kepada pihak yang ingin menerjemahkan atau mengadaptasi buku.
Lisensi terjemahan memungkinkan pihak lain menggunakan karya dalam bahasa tertentu sesuai ruang lingkup izin yang diberikan. Sementara itu, lisensi adaptasi dapat berkaitan dengan pengembangan karya menjadi film, serial, drama panggung, atau bentuk lain yang disepakati.
Dalam kerja sama semacam ini, penulis perlu memastikan pihak yang memberikan izin memang berwenang melakukannya. Jika hak tertentu sebelumnya telah diberikan secara eksklusif kepada penerbit atau agen, penulis harus memeriksa apakah ia masih dapat memberikan lisensi tambahan.
Kontrak lisensi sebaiknya menjelaskan wilayah, bahasa, jangka waktu, format, sifat eksklusif atau non-eksklusif, pembagian pendapatan, dan ketentuan pengakhiran. Semakin jelas ruang lingkupnya, semakin mudah para pihak menghindari perselisihan ketika karya mulai dimanfaatkan secara komersial.
Pemanfaatan Komersial Karya Buku di Era Digital
Perkembangan teknologi membuka jalur distribusi yang semakin beragam. Buku tidak lagi hanya tersedia dalam bentuk cetak, tetapi juga dapat dibaca melalui perangkat elektronik, didengarkan dalam bentuk audio, atau diakses melalui layanan digital tertentu.
Perubahan ini memberikan peluang bagi penulis untuk menjangkau pembaca yang berbeda. Namun, setiap platform dapat memiliki kebijakan mengenai lisensi, pembagian pendapatan, harga, wilayah distribusi, dan penggunaan konten. Oleh karena itu, penulis perlu mempelajari ketentuan platform sebelum mengunggah atau memberikan hak pemanfaatan karya.
Buku elektronik, misalnya, dapat dijual satuan atau tersedia melalui layanan berlangganan. Pendapatan penulis bergantung pada model pembayaran dan perjanjian yang digunakan. Pada beberapa layanan, pembayaran dapat dihitung berdasarkan penjualan, jumlah halaman yang dibaca, atau mekanisme lain yang ditentukan penyedia layanan.
Audiobook juga memberikan peluang tersendiri. Buku yang diubah menjadi rekaman audio dapat menjangkau pembaca yang lebih nyaman mendengarkan daripada membaca teks. Namun, produksi audiobook mungkin melibatkan hak penggunaan naskah, hak atas rekaman suara, dan perjanjian dengan narator atau produser.
Selain itu, penulis perlu memahami bahwa mengunggah karya ke internet tidak selalu berarti memberikan izin kepada semua orang untuk menggandakan atau menjualnya. Ketersediaan suatu buku secara daring tidak otomatis membuatnya bebas digunakan untuk kepentingan komersial.
Sebagai langkah pencegahan, penulis sebaiknya menyimpan salinan kontrak digital, memeriksa ketentuan penggunaan platform, serta memastikan bahwa pemberian izin sesuai dengan hak yang dimiliki. Apabila ada permintaan penggunaan naskah untuk kebutuhan komersial baru, penulis perlu meninjau kembali perjanjian yang telah berlaku sebelum memberikan persetujuan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan dalam Mengelola Hak Ekonomi
Sebagian persoalan hak cipta muncul karena penulis belum memahami ruang lingkup izin yang diberikan atau menganggap kesepakatan tertentu sudah cukup jelas tanpa dokumentasi. Padahal, perbedaan pemahaman mengenai hak dan kewajiban dapat memengaruhi pendapatan serta pengembangan karya.
Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
-
Menandatangani kontrak tanpa membaca seluruh klausul. Penulis perlu memeriksa ruang lingkup hak, jangka waktu, kewajiban penerbit, dan ketentuan pengakhiran.
-
Menganggap semua hak otomatis tetap berada di tangan penulis. Hak yang telah dilisensikan secara eksklusif atau dialihkan sesuai kontrak dapat membatasi pemanfaatan tertentu.
-
Tidak memisahkan hak berdasarkan format. Hak untuk menerbitkan buku cetak belum tentu sama dengan hak untuk membuat audiobook atau mengadaptasi karya.
-
Tidak memeriksa penggunaan materi pihak ketiga. Foto, ilustrasi, kutipan panjang, dan elemen lain dapat memiliki ketentuan hak tersendiri.
-
Mengandalkan kesepakatan lisan. Perubahan hak atau pembagian pendapatan sebaiknya didokumentasikan secara tertulis.
-
Mengabaikan laporan pendapatan. Penulis perlu memeriksa laporan dan menyimpan bukti pembayaran untuk memastikan pencatatan yang tertib.
Kesalahan tersebut dapat dikurangi dengan membiasakan diri membaca kontrak secara teliti dan meminta penjelasan mengenai istilah yang belum dipahami. Jika terdapat ketentuan yang berpotensi memengaruhi hak dalam jangka panjang, penulis dapat meminta pendapat profesional sebelum menyetujui perjanjian.
Tips Melindungi dan Mengoptimalkan Hak Ekonomi Penulis
Perlindungan hak ekonomi tidak hanya dilakukan ketika terjadi pelanggaran. Langkah pencegahan sejak proses penulisan hingga pemasaran dapat membantu penulis menjaga kendali atas karyanya dan mengembangkan peluang pendapatan secara lebih terarah.
Langkah ke-1 : Menyimpan dokumentasi penciptaan. Penulis sebaiknya menyimpan naskah asli, versi revisi, catatan tanggal pengerjaan, dan korespondensi penting. Dokumentasi tersebut dapat membantu menjelaskan riwayat karya apabila muncul sengketa mengenai kepemilikan atau penggunaan.
Langkah ke-2 : Memahami kontrak sebelum memberikan izin. Penulis perlu mengetahui apakah perjanjian bersifat eksklusif, berapa lama hak diberikan, wilayah mana yang dicakup, serta apakah penerbit diperbolehkan memberikan sublisensi kepada pihak lain. Jika terdapat ketentuan mengenai hak turunan, penulis perlu memahami mekanisme persetujuan dan pembagian pendapatannya.
Langkah ke-3 : Melakukan pencatatan pendapatan secara teratur. Setiap pembayaran sebaiknya dikaitkan dengan judul buku, periode laporan, format penerbitan, dan dasar perhitungan yang digunakan. Dengan demikian, penulis dapat mengevaluasi kinerja karya dan membandingkan pendapatan dari berbagai saluran distribusi.
Langkah ke-4 : Mengembangkan strategi komersialisasi berdasarkan kebutuhan pembaca. Penulis dapat mempertimbangkan edisi digital, audiobook, penerjemahan, atau kerja sama promosi apabila sesuai dengan karakter karya dan peluang pasar. Pengembangan tersebut sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan hak yang masih tersedia dan biaya yang diperlukan.
Langkah Terakhir : Penulis perlu memeriksa penggunaan karya di luar saluran resmi secara proporsional. Jika menemukan dugaan penggunaan tanpa izin, simpan bukti yang relevan, periksa status hak dan perjanjian, lalu pertimbangkan langkah penyelesaian yang sesuai. Tidak setiap penggunaan otomatis merupakan pelanggaran, sebab hukum mengenal pengecualian dan pembatasan tertentu. Penilaian perlu dilakukan berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku.
Rekomendasi bagi Penulis dan Penerbit dalam Kerja Sama Komersial
Hubungan antara penulis dan penerbit akan berjalan lebih baik apabila hak, kewajiban, dan mekanisme pembayaran ditetapkan secara transparan. Penulis perlu memahami nilai karyanya, sedangkan penerbit perlu memiliki dasar yang jelas untuk mengelola penerbitan dan distribusi.
Bagi penulis, rekomendasi utamanya adalah memperlakukan kontrak sebagai dokumen pengelolaan aset intelektual, bukan sekadar syarat administratif untuk menerbitkan buku. Setiap hak yang diberikan perlu dipertimbangkan berdasarkan manfaat yang ditawarkan, jangka waktu, dan kemungkinan pengembangan karya pada masa depan.
Bagi penerbit, penjelasan mengenai hak yang diperoleh, format yang dicakup, jadwal laporan, dan pembagian pendapatan dapat meningkatkan kepercayaan penulis. Ketentuan yang mudah dipahami juga membantu mengurangi perbedaan penafsiran dan mendukung hubungan kerja sama jangka panjang.
Kedua pihak sebaiknya menyimpan dokumen perjanjian beserta perubahan atau lampirannya. Jika muncul peluang komersial baru, seperti penerjemahan atau adaptasi audiovisual, para pihak perlu memeriksa apakah pemanfaatan tersebut telah tercakup dalam kontrak atau membutuhkan kesepakatan tambahan.
Apabila kontrak melibatkan pengalihan hak yang luas, lisensi eksklusif jangka panjang, atau pembagian pendapatan yang kompleks, konsultasi dengan ahli hukum kekayaan intelektual dapat membantu memastikan bahwa para pihak memahami konsekuensi perjanjian. Pendekatan ini tidak hanya berguna untuk mengurangi risiko, tetapi juga mendukung pengelolaan karya secara profesional.
Baca Juga : Kapan Hak Cipta Dialihkan dan Apa Konsekuensinya bagi Penulis
Kesimpulan
Hak ekonomi penulis merupakan bagian penting dari perlindungan hak cipta yang memungkinkan karya buku memberikan manfaat finansial melalui penerbitan, penjualan, lisensi, dan bentuk pemanfaatan lainnya. Dalam praktiknya, hak ini berkaitan dengan berbagai peluang, mulai dari royalti buku cetak hingga penerbitan digital, terjemahan, audiobook, dan adaptasi karya.
Untuk mengelolanya secara tepat, penulis perlu memahami dasar hukum, membedakan hak ekonomi dari hak moral, serta memeriksa kontrak yang mengatur ruang lingkup izin, jangka waktu, wilayah, dan pembagian pendapatan. Pemahaman tersebut membantu penulis mengetahui hak yang masih dimiliki dan kewenangan yang telah diberikan kepada pihak lain.
Pada akhirnya, pemanfaatan komersial yang sehat memerlukan kejelasan perjanjian, dokumentasi yang tertib, dan komunikasi terbuka antara penulis dengan penerbit. Dengan menerapkan langkah perlindungan sejak awal dan mengevaluasi peluang pengembangan secara cermat, penulis dapat menjaga nilai karyanya sekaligus memperluas manfaat ekonomi yang dihasilkan dalam jangka panjang.
Punya naskah dan ingin diterbitkan dengan hasil profesional? Kami menyediakan layanan lengkap mulai dari editing, tata letak, desain cover, hingga proses cetak berkualitas. Wujudkan karya Anda menjadi buku yang rapi, menarik, dan siap bersaing. Hubungi kami melalui Admin Haqqi Publisher atau bergabung dengan Channel kami untuk ketahui lebih lebih lengkap seputar layanan.
